Tanggal 26 Mei 2013 akan diselenggarakan Pemilukada Kudus... Hindari politik uang dan pilih pemimpin yang amanah...

Kamis, 16 Mei 2013

Tips Memilih Paslon Pada Pemilukada Kudus 2013


Keharusan Adanya Pemimpin
Kepemimpinan adalah suatu keharusan bagi kesinambungan hidup bermasyarakat. Pada dasarnya kelompok masyarakat tak dapat terwujud tanpa adanya kepemimpinan. Untuk mengatur kelompok masyarakat mencegah peluang bagi pelaku kedhaliman, menegakkan keadilan, melindungi masyarakat yang lemah agar tidak tergilas oleh yang kuat dan banyak hal menyangkut tatanan bermasyarakat diperlukan kepemimpinan. Pada masyarakat muslim kedudukan kepemimpinan ditempatkan pada posisi ke dua setelah kenabian. Demikian juga pada masyarakat selain muslim, banyak juga yang memiliki persepsi serupa.

Selasa, 23 April 2013

Orientasi Pembangunan Kudus Paska Pemilukada 2013


Budaya Masyarakat Kudus
Penduduk Kudus secara budaya telah dikenal dengan sebutan masyarakat ”Jigang” singkatan dari kata ngaji dan dagang. Budaya ngaji (belajar ilmu agama) dan dagang (bekerja di sektor informal) sudah menjadi satu kesatuan masyarakat Kudus yang terkenal sebagai wirausahawan yang ulet dan santri. Ada pula yang menambahkan kata ”Gus” di depan kata ”Jigang” yang berarti bagus (baik budi pekertinya).
Kudus dengan perencanaan yang matang dan potensi ekonomi yang dimiliki, penduduk dengan budaya Jigang-nya umumnya bertemperamen stabil, tidak pecandu politik dan cenderung penurut, sebetulnya tidak sulit untuk dikelola. Namun karena pengaruh ego sektoral, tidak adanya pembinaan profesionalisme birokrasi, penempatan personil yang tidak tepat, masih terasanya nuansa nepotisme dan pungli, maraknya rumor jual beli jabatan, transparansi yang semu, macetnya saluran penyampaian aspirasi dan gagasan, politik kekuasaan yang berpihak dan tidak kondusif, serta sulitnya melepaskan diri dari kungkungan pengaruh pemodal besar/ kapitalis, maka perhatian untuk menyejahterakan masyarakat menjadi terabaikan.

Senin, 18 Maret 2013

Dagelan Itu Ternyata Tidak Lucu


Pasangan Calon Bupati Yang Mendaftar
Tanggal 26 Pebruari 2013 tepat pukul 01.00 oleh KPUD Kudus dinyatakan telah terdaftar 5 paslon (pasangan calon) bupati Kudus. 4 paslon menggunakan kendaraan parpol dan 1 paslon lewat jalur perseorangan. Untuk penetapan paslon secara devinitif masih memerlukan tahapan verifikasi dan validasi pemenuhan persyaratan sesuai peraturan perundang-undangan.
Saat itu telah terdaftar paslon bupati Badri Hutomo-Sofyan Hadi menggunakan Partai Hanura (2 kursi), PKPB (2 kursi), PDK (2 kursi) dan PBR (1 kursi) disusul PKB (6 kursi) sebagai parpol pendukung (bukan pengusung); Mustohofa-Abdul Hamid menggunakan PDI-P (6 kursi), PPP (3 kursi), Pelopor (1 kursi), PAN (5 kursi), PPPI (1 kursi), Partai Gerindra (2 kursi) dan PKS (1 kursi); Tamzil-Asyrofi menggunakan Partai Demokrat (4 kursi), PKNU (2 kursi) dan PIS (1 kursi); Budiyono-Sakiran dicalonkan oleh Partai Golkar, PDP, PDS, PNI Marhaen, PKP dengan modal 15 % suara dari suara sah; serta Erdi Nurkito-Anang Fahmi lewat jalur perseorangan.

Selasa, 05 Februari 2013

Dagelan Politik Jelang Pilkada Kudus


Kilas Balik Pilkada Kudus 2008
Calon Bupati Kudus
Tahun 2008, ketika untuk pertama kalinya pilkada (baca: pemilukada) langsung dilaksanakan di Kudus, Keputusan MK Nomor 5/PUU-V/2007 mengenai diperbolehkannya pencalonan dari jalur perorangan sesungguhnya telah dikeluarkan, namun karena KPU dalam waktu yang berhimpitan dengan waktu pelaksanaan pilkada Kudus itu belum mengeluarkan peraturan pelaksanaannya, maka peranan parpol untuk mengusung cabup menjadi mutlak. Modal dasar parpol untuk mengusung cabup saat itu adalah hasil Pemilu 2004 yang diikuti oleh 24 parpol, yang perolehan suaranya menghasilkan 45 kursi di DPRD didistribusikan pada PKB 9 kursi, PDI Perjuangan 6 kursi, PPP, Partai Golkar, Partai Demokrat dan PAN masing-masing 5 kursi, PKS 4 kursi, PKPB 2 kursi, PBR, PPIB, PNI Marhaenisme dan Partai Pelopor masing-masing 1 kursi. Sedangkan 12 parpol lainnya tidak memenuhi syarat untuk memperoleh kursi.

Sabtu, 12 Januari 2013

Bagaimana Masyarakat Menyikapi Pilkada


Memilih Pemimpin Harus Dengan Niat Yang Benar
kandidat Bupati Idaman
Kudus kini dalam masa-masa jelang hajat memilih pemimpin baru. Semangat memilih pemimpin baru harus bisa dilepaskan dari kepentingan subyektif masyarakat untuk mempertahankan atau menggantikan pemimpin yang lama. Jika semangat tersebut bersemayam di benak masyarakat, maka jangan harap masyarakat akan mendapatkan pemimpin sesuai harapan. Semangat memilih pemimpin baru harus selalu didasari niat dan kesadaran untuk memilih pemimpin yang amanah, yang dapat membawa mereka pada kehidupan yang mandiri, maju, adil, makmur dan sejahtera, lahir dan batin.
Oleh karena yang berkepentingan memilih pemimpin sesungguhnya adalah masyarakat, maka sudah seharusnya yang sibuk mempersiapkan munculnya calon pemimpin tersebut adalah masyarakat. Namun berharap pada masyarakat untuk memiliki kesadaran dan memiliki kemauan dalam melakukan tindakan mempersiapkan calon pemimpin mereka dari kenyataan yang ada tentulah sangat sulit. Kecuali jika ada kelompok masyarakat tertentu yang memiliki kesadaran untuk mau menjadi relawan dalam memprakarsai hal itu.

Sejarah Pemerintahan Kabupaten Kudus


Menara Kudus
Sejarah pemerintahan kabupaten Kudus banyak di kaitkan dengan sejarah perkembangan agama Islam di Jawa serta sejarah tentang Walisongo. Ja’far Shodiq, salah seorang Walisongo yang menjadi qadli/ penghulu dan senopati di Demak yang juga memiliki kemampuan dan kecakapan sebagai da’i/ muballigh, diperintahkan oleh penguasa Demak untuk menyiarkan agama Islam ke suatu daerah di utara Demak yang waktu itu penduduknya masih memeluk agama Hindu dan Budha. Sebelum kedatangan Ja’far Shodiq telah lebih dulu datang seorang dari Yunan bernama The Ling Sing yang kemudian lebih dikenal dengan nama Kyai Telingsing. Bersama-sama dengan Kyai Telingsing, Ja’far Shodiq melalui pendekatan yang santun, arif, bijak dan tulus dengan tetap menghargai budaya setempat mampu menarik hati penduduk untuk berpindah ke agama Islam dan menyatukan mereka. Bersama-sama dengan Kyai Telingsing, Ja’far Shodiq juga membangun daerah kecil ini menjadi negeri yang berkembang. Tampuk kekuasaan kemudian diserahkan pada Ja’far Shodiq. Daerah baru yang kemudian dinamakan Al Quds atau Kudus yang artinya kota suci. Satu-satunya kota di Indonesia yang menggunakan nama dari bahasa Arab. Ja’far Shodiq sebagai pemimpin Kudus kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.